Pengertian dan Pendapat Qadariyyah

4 komentar

Qadariyyah berasal dari qadara yang berarti berkuasa. Maksud berkuasa adalah mempunyai kekuasaan (qudrah). Tuhan disebut Qadîr karena Dia mempunyai qudrah yang sangat besar dan dahsyat. Manusia bisa berbuat karena dalam dirinya juga terdapat qudrah. Seperti Jabbariyyah, Qadariyyah juga mencurahkan perhatian kepada perbuatan Allah dan perbuatan manusia.
Tidak banyak diketahui, kapan dan bagaimana Qadariyyah muncul di dunia Islam. Menurut pendapat ahli ilmu kalam, orang pertama membawa paham Qadariyyah adalah Ma’bad al-Juhani (80 H/699 M) dan Ghaylan al-Dimasyqî (105 H/722 M). Ma’bad adalah seorang tabii yang baik. Ia masuk lapangan politik, mendukung ‘Abd al-Rahmân ibn al-Asy’asy, gubenur Sijistan dalam menentang kekuasaan Bani Umayyah. Dalam pertempuran dengan al-Hajjaj, Ma’bad terbunuh pada tahun 80 H.
Menurut dua tokoh ini, manusia berkuasa atas perbuatannya, mempunyai kebebasan dalam menentukan perjalanan hidupnya, dan mempunyai kekuatan sendiri untuk mewujudkan perbuatannya. Jadi di sini tidak ada campur tangan Tuhan pada waktu manusia berbuat atau memilih untuk tidak berbuat, tidak dapat paham bahwa nasib manusia telah ditentukan terlebih dahulu, dan manusia bertindak menurut aturan yang ditentukan semenjak azali. Tetapi paham yang ada ialah manusia merdeka dalam bertingkah lakunya, berbuat atas kehendak dan kemauan sendiri.
Dalam al-Quran dijumpai ayat yang menunjukkan bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan perbuatannya, seperti:
Katakanlah! Kebenaran datang dari Tuhanmu. Siapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman dan siapa yang ingin kafir, biarlah kafir. (Q.S. al-Kahfi 18:29).
Ayat seperti inilah yang menjadi dasar keberadaan aliran qadariyyah. Seperti aliran jabbariyyah, dengan landasan ayat-ayat al-Qur’an, wajarlah qadariyyah lahir dan berkembang di berbagai belahan dunia Islam meski para pembawanya telah meninggal dunia. Bagaimanapun, paham kemerdekaan dan kebebasan manusia itu cukup berguna bagi kemajuan karena paham seperti ini menggambarkan sikap dinamis yang perlu ada pada manusia. Ialah pemahaman sesat yang mengingkari rukun iman yang ke enam, yaitu takdir Allah Ta'ala. Mereka mengatakan bahwa perbutan manusia ini adalah murni semata-mata dari perbuatan manusia sendiri dan tidak ada hubungannya dengan kehendak dan takdir Allah.
Pendapat Qadariyyah
Tuhan Allah, kata mereka tidak sangkut paut dengan pekerjaan manusia dan apa yang diperbuat meraka tidak diketahui oleh Allah sebelumnya, tetapi tuhan mengetahui setelah perbuatan oleh manusia.
Ada sebagian orang qadariyyah yang menfatwakan bahwa sekalian pekerjaan manusia yang baik adalah tuhan yang menciptakan, tetapi pekerjaan manusia yang buruk atau maksiat manusia itu sendiri yang menciptakannya dan tidak ada sangkut pautnya dengan tuhan.
Qadariyyah pada tahun 71/690 berpendapat bahwa tingkah laku manusia ditentukan oleh takdir Tuhan dan bukan berdasarkan pada kebebasan manusia. Meskipun pemikiran ini tidak berangkat dari kepentingan politik, tapi ada usaha-usaha untuk mengaitkannya dengan masalah politik. Khalifah bani Umayyah mengklaim bahwa kekuasaan mereka telah ditakdirkan oleh Tuhan. Sebagai indikasi bahwa masalah teologi ini penting maka Hasan al-Basri (d.110/728) tokoh penting dalam hal ini, pada tahun 81/700 menulis RisÉlah kepada khalifah Abd al-Malik yang intinya membicarakan masalah kebebasan kehendak manusia dan takdir Tuhan, yang kemudian dibalas oleh khalifah secara tertulis.Tokoh-tokoh lain yang intensif terlibat dalam diskusi masalah ini adalah Ma’bad al-Juhani (d.84/703) and Ghaylan al-Dimanshqi (d.126/743). Pandangan kelompok yang disebut al-Qadariyyah ini disanggah oleh Jahm Ibn Safwan (d.127/745), yang pengikutnya dinamakan al-Jahmiyyah.
Paham Qadariyyah sendiri ibn Raihan beri penjelasan – mengutip uraian Dr. Ahmad Sa’d Hamdan; adalah nama yang Ahlussunnah sebut untuk segolongan orang yang berkeyakinan bahwa manusia berbuat karena amal (dari diri) mereka dan bukan Allah. Artinya, bahwa mazhab ini tidak mengakui adanya campur tangan Allah dalam apa yang dikerjakan oleh manusia. Manusia sangat bebas dalam menentukan perilaku dan amal perbuatannya, termasuk tanpa pertolongan dan intervensi dari Allah sekalipun

Lanjut Membaca “Pengertian dan Pendapat Qadariyyah”  »»

Sejarah Munculnya Faham Qadariyyah

0 komentar

Faham qadariyyah pada hakikatnya adalah sebagaian dari faham mu’tazilah, karena imam-imamnya terdiri dari orang mu’tazillah. Akan tetapi faham ini dibicarakan dalam satu pasal tersendiri, karena sepanjang sejarah faham qadariyyah suatu sola yang besar juga yang harus menjadi perhatian. Orang yang mula-mula mebawa faham qadariyyah adalah Ma’bad al Juhani dan Gailan ad Dimasyqi.
Ma’bad al Juhani adaah seorang tabi’in yaitu generasi yang kedua setelah Nabi Muhammad SAW. Ia pernah belajar dengan Wasil bin ‘Atha (Imam kuam Mu’tazilah) kepada Syeikh Hasan basri di Basrah. Adapun Gailan ad Dimasyqi adalah penduduk kota Dimasyaq (syriah) bapakna seorang yang petnah bekerja bersama khalifah Usman bin Affan.
Akhir hidup Ma’bad al Juhani dan Gailan ad Dimasyqi dihukum mati karena menganut faham yang salah itu.
Syibli Nu'man, ahli ilmu kalam, menegaskan bahwa asal-usul paham Jabariyyah itu secara politis. Bani Umayah memerintah dengan keras dan kejam. Rakyat menderita dan ingin memberontak. Pemerintah segera mengalihkan persoalan kepada takdir. Bila mereka kehilangan hartanya atau nyaawanya, yang dijadikankambing hitam adalah takdir. Salah satu tanda keimanan adalah menerima takdir dengan ridha. Tiba-tiba Ma'bad datang, ia bertanya kepada Hasan al-Bashri, "sejauh mana kebenaran Umawiyyin –orang-orang Umawiyah- tentang qadha dan qadhar?" Hasan al-Basri menjawab singkat, "Mereka pendusta."
Ma'bad pindah dari Bashra ke Madinah. Di situ ia menyebarkan pahamnya, manusia diberi kebebasan untuk memilih (ikhtiyar). Ia dapat menentukan nasibnya. Seorang berkuasa bukan karena ia diridhai Allah swt. Ia berkuasa karena berhasil merebut kekuasaan dengan cara apa saja. Al-Hajjaj memburunya ke Madinah. Ia ditangkap dan disiksa. Menurut suatu riwayat, dia diserahkan kepada raja Abdul Malik, ia dihukum mati, dan disalib di Damaskus. (lih. Al-I'lam az-Zarkasyi 6/178).
Kepada Ma'bad kemudian dinisbahkan berbagai cerita rekaan. Konon, ia belajar paham Qadariyyah dari orang Nashrani. Para ulama mengutuknya di minbar-minbar. Sebagian ahli hadits memasukkannya ke dalam kelompok orang yang tidak dapat dipercaya. Az-Dzhabi menyebutnya dalam Mizan al-I'tidal dengan segenap celaan padanya. Ad-Daruquthni memberikan komentar moderat, "Ma'bad itu haditsnya bagus, hanya mazhabnya yang jelek.
Menurut pendapat ahli ilmu kalam, orang pertama membawa paham Qadariyyah adalah Ma’bad al-Juhani (w.80 H/699 M) dan Ghaylan al-Dimasyqî (w. 105 H/722 M). Ma’bad adalah seorang tabii yang baik. Ia masuk lapangan politik, mendukung ‘Abd al-Rahmân ibn al-Asy’asy, gubenur Sijistan dalam menentang kekuasaan Bani Umayyah. Dalam pertempuran dengan al-Hajjaj, Ma’bad terbunuh pada tahun 80 H.
Dalam sejarahnya, umat Islam telah dirumitkan dengan permasalahan Qadla dan Qadr ini sejak akhir masa Khulafa ar-Rasyidin dan di masa Umawiyyah. Tidak jelas siapa yang menjadi dalangnya ataupun yang dianggap sebagai imam dari pemikiran ini. Hanya saja, Dr. Ahmad Abdurrahim as-Sayih menyebut bahwa kelompok yang beranggapan Qadariyyah adalah Mu’tazilah. Akan tetapi, dari referensi lain, dapat disebut seorang Ma’bad al-Juhaniy, yang ia sendiri mengambil pemikiran tersebut dari seorang Nashraniy yang masuk Islam, kemudian murtad. Dan adalah Ma’bad, orang pertama yang menyebarkan diskursus ini di kalangan umat. Dan kemudian wacana ini selanjutnya diteruskan oleh Ghoylan, sebut Imam al-Auza’i menambahkan.
Ibn Rusyd, yang perkataannya dikutip Dr. Ahmad Abdurrahim as-Sayih, berkata, “Umat Islam ketika itu berselisih di masalah ini dikarenakan oleh kajian dan pemikiran atas dalil-dalil sam’iyyat (Quran dan Hadits) yang terlihat bertentangan, termasuk juga dalil akal.”
Sebagai contoh, kalaulah kehendak Allah itu syamil atas segala apa yang terjadi, lantas bagaiamana mungkin Allah menghendaki adanya kejelekan? Lalu, seandainya kita katakan bahwa kehendak-Nya itu hanya kepada kebaikan, maka tentulah wajib adanya perbuatan selain dari yang dikehenadki-Nya. Bila itu terjadi, lantas bagaimana bisa dikatakan iradat-Nya syamilah dan qudrat-Nya itu mutlak? Nah, dari pertentangan inilah kemudian timbul sekte-sekte baru dalam Islam.
Kemudian beliau menuliskan dalam judul makalah beliau “al-Qadariyyah”, bahwa dalam memandang permasalahan al-jabar (paksaan) dan ikhtiar (qudrat) ini, ada tiga golongan dalam umat Islam. Pertama, mereka yang berkata adanya qadr dan ikhtiar. Artinya, bahwa manusia memiliki kemampuan dalam dirinya sebelum melakukan sautu pekerjaan. Inilah golongan Mu’tazilah dan mereka yang melenceng dalam pemikiran mereka.
Yang kedua, golongan yang condong pada jabar (paksaan); artinya mereka menafikan adanya perbuatan dari seorang hamba. Jadilah manusia itu seorang hamba yang dipaksa dalam perbuatannya, tidak juga memiliki qudrat (kemampuan) ataupun iradat (keinginan).
Dan yang ketiga adalah golongan yang berada di tengah-tengah. Tidak mereka menafikan qudrat, juga tidak menafikan jabar. Allah-lah sang Pencipta perbuatan manusia, karena manusia dan seluruh perbuatannya diciptakan oleh Allah. Akan tetapi manusia, tetap memiliki kemampuan yang Allah menciptakannya bersamaan dengan perbuatan manusia tersebut, tidak setelah ataupun sebelumnya. Manusia dalam pandangan golongan ini, muktasib (berusaha) dalam amalnya dan Allah-lah Pencipta perbuatan tersebut. Mereka adalah golongan Ahlussunnah, termasuk al-Asyairah dan mereka yang sependapat dengannya.

Lanjut Membaca “Sejarah Munculnya Faham Qadariyyah”  »»

Jenis-Jenis Metode Penelitian Pendidikan

0 komentar

Jenis-jenis metode penelitian juga dapat diklasifikasikan berdasarkan tujuan dan tingkat kealamiahan (natural setting) objek yang diteliti. Berdasarkan tujuan metode penelitian dapat diklasifikasikan menjadi penelitian dasar (basic research), penelitian terapan (applied research) dan penelitia pengembangan (research and depelopment). Selanjutnya berdasrkan tingkat kealamiahan, metode penelitian dapat dikelompokkan mejadi metode penelitian eksperimen, survey dan naturalistic.
1. Penelitian Menurut Tujuan
a. Penelitian Terapan
adalah penelitian yang diarahkan untuk mendapatkan informasi yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah.
b. Penelitian Murni/Dasar
adalah penelitian yang dilakukan diarahkan sekedar untuk memahami masalah dalam organisasi secara mendalam (tanpa ingin menerapkan hasilnya). Penelitian dasar bertujuan untuk mengembangkan teori dan tidak memperhatikan kegunaan yang langsung bersifat praktis. Jadi penelitian murni/dasar berkenaan dengan penemuan dan pengembangan ilmu.
2. Penelitian Menurut Metode
a. Penelitian Survey
Penelitian yang dilakukan pada popolasi besar maupun kecil, tetapi data yang dipelajari adalah data dari sampel yang diambil dari populasi tersebut, sehingga ditemukan kejadian-kejadian relatif, distribusi dan hubungan-hubungan antar variabel sosilogis maupun psikologis.
b. Penelitian Ex Post Facto
Yaitu penelitian yang dilakukan untuk meneliti peristiwa yang telah terjadi yang kemudian merunut ke belakang untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat menimbulkan kejadian tersebut.
c. Penelitian Eksperimen
Yaitu suatu penelitian yang berusaha mencari pengaruh variabel tertentu terhadap variabel yang lain dalam kondisi yang terkontrol secara ketat. Variabel independennya dimanipulasi oleh peneliti.
d. Penelitian Naturalistic
Metode penelitian ini sering disebut dengan metode kualitatif, yaitu metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek alami (sebagai lawannya) dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci. Contoh : Sesaji terhadap keberhasilan bisnis.
e. Policy Reserach
Yaitu suatu proses penelitian yang dilakukan pada, atau analisis terhadap masalah-masalah sosial yang mendasar, sehingga temuannya dapat direkomendasikan kepada pembuat keputusan untuk bertinak secara praktis dalam menyelesaikan masalah.
f. Action Research
Merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan metode kerja yang paling efisien, sehingga biaya produksi dapat ditekan dan produktifitas lembaga dapat meningkat. Tujuan utama penelitian ini adalah mengubah: 1) situasi, 2) perilaku, 3) organisasi termasuk struktur mekanisme kerja, iklim kerja, dan pranata.
g. Penelitian Evaluasi
Merupakan bagian dari proses pembuatan keputusan, yaitu untuk membandingkan suatu kejadian, kegiatan dan produk dengan standar dan program yang telah ditetapkan.
h. Penelitian Sejarah
Berkenaan dengan analisis yang logis terhadap kejadian-kejadian yang berlangsung di masa lalu. Sumber datanya bisa primer, yaitu orang yang terlibat langsung dalam kejadian itu, atau sumber-sumber dokumentasi yang berkenaan dengan kejadian itu. Tujuan penelitian sejarah adalah untuk merekonstruksi kejadian-kejadian masa lampau secara sistematis dan obyektif, melalui pengumpulan, evaluasi, verifikasi, dan sintesa data diperoleh, sehingga ditetapkan fakta-fakta untuk membuat suatu kesimpulan.
3. Penelitian Menurut Tingkat Eksplanasi
Tingkat eksplanasi adalah tingkat penjelasan. Jadi penelitian menurut tingkat eksplanasi adalah penelitian yang bermaksud menjelaskan kedudukan variabel-variabel yang diteliti serta hubungan antara satu variabel dengan variabel yang lain.
a. Penelitian Deskriptif
Adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih (independen) tanpa membuat perbandingan, atau penghubungan dengan variabel yang lain.
b. Penelitian Komparatif
Adalah suatu penelitian yang bersifat membandingkan. Variabelnya masih sama dengan penelitian varabel mandiri tetapi untuk sample yang lebih dari satu, atau dalam waktu yang berbeda.
c. Penelitian Asosiatif/Hubungan
Merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua variable atau lebih. Dengan penelitian ini maka akan dapat dibangun suatu teori yang dapat berfungsi untuk menjelaskan, meramalkan dan mengontrol suatu gejala.
4. Penelitian Menurut Penggunaannya
Jenis penelitian bila dilihat dari segi penggunaannya dapat digolongkan menjadi:
a. Penelitian dasar atau penelitian murni ( pure research ) LIPI memberi definisi sebagai berikut. Penelitian dasar adalah setiap penelitian yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan ilmiah atau untuk menemukan bidang penelitian baru tanpa suatu tujuan praktis tertentu. Artinya kegunaan hasil penelitian itu tidak segera dipakai namun dalam waktu jangka panjang juga akan terpakai.
b. Penelitian terapan ( applied research )
Batasan yang diberikan LIPI adalah:
Penelitian terapan ialah setiap penelitian yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan ilmiah dengan suatu tujuan praktis. Berarti hasilnya diharapkan segera dapat dipakai untuk keperluan praktis. Misalnya penelitian untuk menunjang kegiatan pembangunan yang sedang berjalan, penelitian untuk melandasi kebijakan pengambilan keputusan atau administrator.
Dilihat dari segi tujuannya, penelitian terapan berkepentingan dengan penemuan-penemuan yang berkenan dengan aplikasi dan sesuatu konsep-konsep teoritis tertentu.
5. Menurut Sifat Permasalahannya
Sesuai dengan tugas penelitian itu untuk mmemberikan, menerangkan, meramalkan dan mengatasi permasalahan atau persoalan-persoalan, maka penelitian dapat pula digolongkan dari sudut pandangan ini. Sehingga penggolongan ini bisa mencakup penggolongan yang disebut terdahulu.
Berdasarkan penggolongan ini dapat dipilih rancangan penelitian yang sesuai. Ada delapan jenis penelitian itu yakni:
a. Penelitian Historis
Penelitian ditujukan kepada rekonstruksi masa lampau sistematis dan objektif memahami peristiwa-peristiwa masa lampau itu.
Data yang dikumpulkan pada penelitian ini sukar dikendalikan. Maka tingkat kepastian pemecahan permasalahan dengan metode ini adalah paling rendah. Data yang dikumpulkan biasanya hasil pengamatan orang lain seperti surat-surat arsip atau dokumen-dokumen masa lalu. Penelitian seperti ini jika ditujukan kepada kehidupan pribadi seseorang, maka penelitian disebut penelitian biografis.
b. Penelitian Deskriptif
Penelitian deskripsi berusaha memberikan dengan sistematis dan cermat fakta-fakta aktual dan sifat populasi tertentu.
Misalnya: penelitian yang dilakukan mahasiswa untuk menyusun tesis memperoleh gelar sarjana kependidikan di IKIP, biasanya adalah penelitian deskriptif, seperti penelitian mengenai kemunduran prestasi belajar siswa, kemunduran rasa tanggung jawab.
c. Penelitian Perkembangan
Penelitian perkembangan menyelidiki pola dan proses pertumbuhan atau perubahan sebagai fungsi dari waktu.
- Memusatkan perhatian pada ubahan-ubahan dan perkembangannya selama jangka waktu tertentu. Meneliti pola-pola pertumbuhan, laju, arah, dan urutan perkembangan dalam beberapa fase.
- Penelitian ini umumnya memakai waktu yang panjang atau bersifat longitudinal. Dan biasa dilakukan oleh peneliti ahli dengan fasilitas cukup.
d. Penelitian kasus dan Penelitian lapangan
Penelitian kasus memusatkan perhatian pada suatu kasus secara intensif dan terperinci mengenai latar belakang keadaan sekarang yang dipermasalahkan.
- Subjek yang diteliti terdiri dari suatu kesatuan ( unit ) secara mendalam, sehingga hasilnya merupakan gambaran lengkap atau kasus pada unit itu. Kasus bisa terbatas pada satu orang saja, satu keluarga, satu daerah, satu peristiwa atau suatu kelompok terbatas lain.
- Selain penelitian hanya pada suatu unit, ubahan-ubahan yang diteliti juga terbatas, dari ubahan-ubahan dan kondisi-kondisi yang lebih besar jumlahnya, yang terpusat pada spek yang menjadi kasus. Biasanya penelitian ini dengan cara longitudinal.
e. Penelitian Korelasional
Penelitian korelasional bertujuan melihat hubungan antara dua gejala atau lebih.misalnya, apakah ada hubungan antara status sosial orang tua siswa dengan prestasi anak mereka.
f. Penelitian Kausal-Komparatif
Penelitian untuk menyelidiki kemungkinan hubungan sebab akibat antara faktor tertentu yang mungkin menjadi penyebab gejala yang diselidiki.
Misalnya : sikap santai siswa dalam kegiatan belajar mungkin disebabkan banyaknya lulusan pendidikan tertentu yang tidak mendapat lapangan kerja.
- Pengumpulan data mengenai gejala yang diduga mempunyai hubungan sebab akibat itu dilakukan setelah peristiwa yang dipermasalahkan itu telah terjadi (penelitian bersifat ex post facto).
- Suatu gejala yang diamati, diusut kembali dari suatu faktor atau beberapa faktor pada masa lampau.
g. Penelitian Ekspremental
Penelitian dengan melakuakn percobaan terhadap kelompok-kelompok ekspremen. Kepada tiap kelompok ekspremen dikenakan perlakuan-perlakuan tertentu dengan kondisi-kondisi yang dapat dikontrol.
Data sebagai hasil pengaruh perlakuan terhadap kelompok ekspremen diukur secara kuantitatif kemudian dibandingkan. Misalnya, hendak meneliti keefektifan metode-metode mengajar. Penerapan tiap metode dicobakan terhadap kelompok-kelompok coba. Pada akhir percobaan prestasi belajar tiap kelompok dievaluasi.
h. Penelitian Tindakan
Penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan keterampilan baru untuk mengatasi kebutuhan dalam dunia kerja atau kebutuhan praktis lain. Misalnya, meneliti keterampilan kerja yang sesuai bagi siswa putus sekolah di suatu daerah.
- Dipersiapkan untuk kebutuhan praktis yang berkaitan dengan dunia kerja.
- Penelitian didasarkan pada pengamatan aktual dan data tingkah laku. Menyiapkan program kerja untuk pemecahan masalah.
- Bersifat fleksibel, dapat diadakan perubahan selama proses penelitian bila dianggap penting untuk pembaruan (inovasi).
6. Penelitian Menurut Jenis Data dan Analisis
Jenis data dan analisisnya dalam penelitian dapat dikelompokkan menjadi dua hal utama yaitu data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif adalah data yang berbentuk kata, kalimat, skema dan gambar. Data kuantitatif adalah data berbentuk angka atau data kualitatif yang diangkakan (scoring).
7. Menurut Bidang Ilmu
Ragam penelitian ditinjau dari bidangnya adalah: penelitian pendidikan (lebih lanjut lagi pendidikan guru, pendidikan ekonomi, pendidikan kesenian), ketekhnikan, ruang angkasa, pertanian, perbankan, kedokteran, keolahragaan, dan sebagainya.

Lanjut Membaca “Jenis-Jenis Metode Penelitian Pendidikan”  »»

Landasan dan Teknik dalam Penelitian Pendidikan

0 komentar

LANDASAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS
a. Landasan Teori
Kerlinger (1978) mengemukakan bahwa teori adalah seperangkat konsep,defenisi dan proposisi yang berfungsi untuk meliha fenomena secara sistematis, melalui spesifikasi hubungan antara variable, sehingga dapat berguna untuk menjelaskan fenomena. Landasan teori dalam penelitian perlu ditegakkan agar penelitian itu mempunyai dasar yang kokoh, dan bukan sekedar perbuatan coba-coba. Adanya landasan teoritis ini merupakan cirri bahwa penelitian itu merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data.
b. Kerangka Berpikir
Uma Sekaran dalam bukunya Buseness Reserch (1992) mengemukankan bahwa kerangka berpikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai factor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting
c. Hipotesis
Hipotesis penelitian merupakan jawaban sementara terhadap masalah yang hendak dicari solusi pecahan melalui penelitian, yang dirumuskan atas dasar pengetahuan, pengalaman dan logika yang kemudian akan diuji kebenaranya melalui penelitian yang hendak dilakukan. Hipotesis tidak selalu muncul dalam penelitian, namun harus disesuaikan dengan jenis penelitian, jika penelitian bersifat deskriptif, hipotesis tidak perlu memuatkan dlam penelitian.
POPULASI DAN SAMPEL
a. Populasi
Populasi merupakan seluruh objek penelitian. Populasi menurut Singarimbun (1989) adalah jumlah dari keseluruhan unit-unit analisis yang dimiliki cirri-ciri yang akan diduga. Nawawi (2003) populasi adalah keseluruhan subjek penelitian yang dapat terdiri dari manusia, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala-gejala, nilai tes atau peristiwa-peristiwa sebagai sumber data yang memiliki karakteristik tertentu didalam suatu penelitian.
Dalam penelitian, populasi ini dibedakan antara populasi secara umum dengan populasi target “target population”. Populasi target adalah populasi yang menjadi sasaran keberlakuan kesimpulan penelitian kita. Populasi umum penelitian mungkin seluruh guru SMA tetapi populasi targentya seluruh guru IPA SMA.
b. Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar dan penelitian tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka penelitian dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu.
Sampel adalah sebagian dari jumlah populasi yang dipilih untuk sumber data, salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh sampel adalah harus diambil dari bagian populasi, yang dapat diambil sebagai sampel dalam hal ini adalah populasi akses, yaitu jumlah anggota kelompok yang dapat ditemui dilapangan dan bukan populasi target.
Pengambilan sampel merupakan suatu proses pemilihan dan penentuan jenis sampel dan perhitungan besarnya sampael yang akan menjadi subjek atau objek penelitian. Sampel yang secara nyata akan diteliti harus representative dalam arti mewakili populasi baik dalam karakteristik maupun jumlahnya.
TEKNIK PENGUMPULAN DATA DAN ANALISIS DATA
Sebelum pengumpulan data dan analisis data peneliti dituntut untuk memehami cara atau teknik pengumpulan data dan analisis data penelitian, teknik pengumpulan data merupakan tata cara atau langkah-langkah peneliti untuk mendapat data penelitian. Dalam teknik pengumpulan data yang dibutuhkan adalah data primer dan data sekunder, data primer merupakan data yang diperoleh dengan teknik pengumpulan data yang sering digunakan seperti: interview, kuesioner dan observasi. Sedangkan data sekunder diperoleh dari penelaahan dari dokumen-dokumen yang berhubungan dengan peroalan penelitian, seperti literature yang memiliki relevansi dengan focus kajian.
Analisis data merupakan kegiatan yang dilakukan oleh peneliti setelah data terkumpul. Analisi data penelitian kuantitatif adalah menggunakan analisis statistic.
Geoffrey E. Milss (2000), mengemukakan beberapa teknik analisis data:
1. Mengidentifikasi tema-tema
2. Membuat kode pada hasil servey
3. Ajukan pertanyaan-pertanyaan kunci
4. Buatlah reviu keorganisasian dari unit yang diteliti
5. Buatlah peta konsep
6. Analisis factor yang mendahuli dan mengikuti
7. Buatlah bentuk-bentuk penyajian dari temuan
8. Kemukakan apa yang belum/tidak ditemukan.

Lanjut Membaca “Landasan dan Teknik dalam Penelitian Pendidikan”  »»

Recent Comentar

 

Abdul Katar Al-GhazaliCopyright © 2008 Bangkoand Merangin